Program Kolaboratif, 3 Starategi Kembangkan Sentra Pengelolaan Beras Terpadu

Program Kolaboratif, 3 Starategi Kembangkan Sentra Pengelolaan Beras Terpadu

Beritakoperasi, Jakarta – Indonesia dengan keberlimbahan kekayaan alamnya terutama yang memiliki potensi ekonomis yang sangat besar terutama sebagai negara maritim. Melihat tersebut membuat Teten Masduki sebagai Menteri Koperasi dan UKM mencanangkan penerapan tiga strategi dalam pengembangan sentra pengelolaan beras terpadu yang melibatkan koperasi, Bumdes, dan 7 BUMN di Kebumen, Jawa Tengah.

“Mereka secara konsisten melakukan kemitraan strategis dengan masyarakat petani melalui sharing kepemilikan perusahaan, seperti PT Mitra Desa Kebumen (MDK) yang mengelola Sentra Pengelolaan Beras Terpadu (SPBT) untuk wilayah Desa Kaliputih, Kecamatan Kutowinangun, Kabupaten Kebumen,” Ujar Teten.

Dalam melakukan peninjauan Sistem Pengelolahan Besar Terpadu (SPBT), Teten Masduki Bersama Menteri BUMN erick Tohir dan Menteri Perdagangan M. Lutfi di Kutowinangun, Kebumen, Minggu (23/5). Ia menerangkan bahwa keberpihakan kepada para petani yang dapat meningkatkan kesejahteraannya perlu terus diupayakan.

“Program Kolaboratif antar kementrian seperti ini, antara Kementrian BUMN, Kementrian Perdagangan, serta Kementrian Koperasi dan UKM, dan secara implementatif dilakukan antara pelaku usaha, yaitu BUMN, Koperasi, dan Swasta, perlu dikawal dengan serius,” Kata Teten.

Teten berharap bahwa kemitraan seperti ini dapat dikembangkan lebih masih lagi pada sentra-sentra produksi pertanian di seluruh wilayah Indonesia.

“Ditingkatkan kualitas layanan koperasi terhadap anggotanya. Sehingga, bukan saja produktivitas petani semakin tinggi, namun kebutuhan petani dapat dipenuhi melalui keberadaan koperasi,” Kata Teten.

Teten meyakini bahwa manfaat yang dirasakan petani anggota koperasi semkin baik, maka partisipasi modal petani terhadap kepemilika MDK akan semakin besar selama lima tahun kedepan.

Lebih dari itu peran koperasi sebagai Lembaga pendidikan, yaitu dengan kewajiban memiliki dan mengelola dana pendidikan yang disishkan dari SHU tiap tahun, juga dapat menjadi wadah yang tepat bagi tumbuhnya wirausaha anggota.

“saya berharap program kolaboratif ini dapat intensif dikoordinasi dan dimonitor melalui Unit Kerja Teknis di masing-masing kementrian. Di tempat kami ada Deputi Bidang Perkoperasian, Deputi Bidang Kewirausahaan, dan BLU Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPBD KUMKM) yang dapat dikaitkan dengan program kewirausahaan petani melalui koperasi,” Tambah Teten.

Pembangunan SPBT merupaka tahapan dalam program mewirausahakan petani untuk mendukung petani setelah masa pratanam dan tanam serta masa panes dan pascapanen.

SPBT ini didesain untuk membantu meningkatkan produksi beras dan kesejahteraan petani serta untuk menyerap beras medium dari usaha pengolahan beras tradisional setempat.

Source : Antaranews

(Hirdan/BeritaKoperasi)