MenkopUKM Ungkap 3 Strategi Utama Tingkatkan Ekspor UMKM

MenkopUKM Ungkap 3 Strategi Utama Tingkatkan Ekspor UMKM

Beritakoperasi, Jakarta – Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi mulai membaik dan bangkit dari resesi. Pertumbuhan ekonomi membaik dari minus 2,19% di Q4-2020 menjadi minus 0,74% di Q1-2021 atas kondisi dampak pandemic COVID-19.

“Hal ini ditopang dari berbagai stimulus trutama belanja pemerintah dan konsumsi rumah tangga yang semakin membaik,” Kata Teten dalam keterangan tertulis, Selasa (15/6/21).

Teten mengutip hasil survei BRI Micro & SME indeks (BMSI Q1-2021) yang menyebut indeks keperccayaan pelaku UMKM kepada pemerintah (IKP) terus meningkat dari 126,8 di Q3 2020 menjadi 136,3 di Q4 2020.

“Pelaku UMKM optimistis dan yakin pemerintah mampu menangani dampak COVID-19 dengan baik. Saya kira IKP sudah pas dengan kebijakan pemulihan ekonomi nasional,” Ujarnya.

 Teten mengatakan digitalisasi harus mampu meningkatkan ekspor produk UMKM ke pasar dunia, terutama ke mesir. Menurutnya, kontribusi ekspor Indonesia masih rendah yaitu 14% disbanding beberapa negara lainnya.

“Pada tahun 2024, pemerintah menargetkan kontribusi ekspor UMKM akan meningkatkan menjadi 21,6%,” Kata Teten.

Dengan demikian statistic e-commerce 2020 (BPS) menunjukan hanya 4,68% usaha e-commerce melakukan ekspor, 54,01% nya adalah usaha di sektor perdagangan besar dan eceran, bukan sektor produktif.

Maka dari itu Teten menjelaskan bahwa 3 strategi utama yang akan dan sedang dilakukan untuk dapat meningkatkan ekspor UMKM.

Pertama, penguatan database pemetaan potensi produk maupun pasar melalui basis data tunggal UMKM, preferensi pasar di negara tujuan, jaringan distribusi dan Gudang di luar negeri, serta affirmative-action penurunan tarif di negara tujuan dan memperluas kerja sama dagang luar negeri.

“Butuh peran aktif Kemenlu, KBI/KJRI, Atase Perdagangan dan ITPC, BKPM, serta beberapa inkubasi ekspor swasta yang sudah kuat,” Kata Teten.

Kedua, peningkatan kualitas SDM dan produk melalui program pendidikan dan pelatihan , sekolah ekspor, standarisasi dan sertifikasi serta factory sharing.

Ketiga, Kemudahan pembiayaan. Skema pembiayaan UKM unntuk ekspor terus dipermudah diantaranya melalui Kerjasama dengan beberapa sumber pembiayaan ekspor seperti LPEI/KURBE, LPDB-KUMKM, Perbankan/Himbara, dan skema alternatif lainnya, modal ventura serta CSR.

“Skema KUR sebagaimana arahan prsiden terbaru dapat dimanfaatkan plafon KUR dari sebelumnya maksimum Rp 500 Juta naik menjadi Rp 20 Miliar. Dan, KUR tanpa agunan naik dari Rp 50 juta menjadi Rp 100 Juta,” Ungkapnya.