Jakarta, Beritakoperasi – Menteri Koperasi, Budi Arie Setiadi membantah anggapan bahwa program Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih menjadi pemicu melemahnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang anjlok hingga 5 persen.
Ia mengatakan program ini justru bertujuan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat menengah ke bawah, terutama di desa.
“Daya beli masyarakat meningkat. Ekonomi akan lebih meningkat. Pertumbuhan ekonomi akan jauh lebih tinggi dengan adanya kopdesk merah putih. Kok dihubung-hubungkan dengan (IHSG),” kata Budi kepada media, Jakarta, Rabu (19/3/2025).
Selain itu, meskipun salah satu sumber pendanaan Kopdes Merah Putih berasal dari Himpunan Bank Milik Negara (Himbara), tidak ada risiko kredit macet karena menggunakan dana APBN.
“Enggak loh. Bagaimana macet? (Kredit) Bagaimana macet orang dibayar pake APBN? Dan ini, ingat loh. Kopdes merah putih ini bukan ekonomi konsumtif,” tegasnya.
Menurutnya, Kopdes Merah Putih adalah bentuk investasi desa yang mencakup berbagai gerai, seperti gerai kebutuhan pokok, unit simpan pinjam, klinik desa, apotek, hingga transportasi logistik.
“Loh kok di menghambat ini bukan hambur-hambur duit loh,” imbuhnya.
Lebih lanjut, Budi menyebut program ini bisa mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga 8 persen.
“Kopdes merah putih ini justru untuk mempercepat pembangunan desa. Karena daya dongkrak pertumbuhan ekonomi Indonesia. Kalau mau 8 persen salah satunya adalah desa. Digerakkan ekonomi. Gitu loh. Ya. Jadi kalau yang bilang itu, nggak ada itu,” jelasnya.
Sementara itu, Direktur Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menilai anjloknya IHSG disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk sejumlah program pemerintah yang berjalan bersamaan.
Beberapa di antaranya adalah rencana pembangunan tiga juta rumah, penghapusan utang UMKM, hingga peluncuran program makan bergizi dan Koperasi Desa Merah Putih.
Penjualan saham secara besar-besaran, terutama di sektor perbankan, turut memberi tekanan pada IHSG.
Saham bank besar seperti BBNI, BBRI, dan BBCA menjadi sasaran aksi jual investor asing, mengingat beberapa program pemerintah melibatkan skema pembiayaan dari Himbara.
Ketika saham perbankan mengalami penurunan, IHSG pun ikut tertekan karena bobotnya yang besar dalam perhitungan indeks.
“Nah ini juga makanya kalau misalkan bank-bank itu juga dijual oleh investor asing, maka otomatis indeksnya pun juga pasti akan mengalami penurunan. Kenapa? Karena market capnya besar, kan begitu,” jelas dia. (IT/Beritakoperasi)
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.