Menjauhi Gharar Dalam Bermuamalah

Dalam bermuamalah Agama Islam telah mengatur agar terjadi keadilan bagi semua. Allah SWT telah menghalalkan transaksi jual beli, namun dalam praktek di lapangan masih sering terjadi penyimpangan dalam aplikasi transaksi jual beli. Islam telah memberikan aturan jual beli dalam Islam. Islam tidak membolehkan  adanya unsur gharar pada transaksi ekonomi.

Menjauhi Gharar Dalam Bermuamalah

 

Tauziah Ahad Pagi, 19 September 2021 | 11 Shafar 1443 H

 

Beritakoperasi, Jakarta –Dalam bermuamalah Agama Islam telah mengatur agar terjadi keadilan bagi semua. Allah SWT telah menghalalkan transaksi jual beli, namun dalam praktek di lapangan masih sering terjadi penyimpangan dalam aplikasi transaksi jual beli. Islam telah memberikan aturan jual beli dalam Islam. Islam tidak membolehkan  adanya unsur gharar pada transaksi ekonomi.

 

Larangan gharar ini terdapat pada:

 

هَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ بَيْعِ الْحَصَاةِ وَعَنْ بَيْعِ الْغَرَر

Dari Abu Hurairah ra, ia berkata, “Rasulullah SAW telah melarang (kita) dari (melakukan) jual beli barang secara gharar.” (HR. Muslim, At- Tirmidzi, Ibnu Majah, An Nasa’i)

 

Adapun larangan jual beli secara gharar, merupakan prinsip yang agung dari sekian prinsip yang terkandung dalam bab jual beli (al-buyu’), sehingga Imam Muslim menempatkan hadits gharar ini di bagian pertama (dalam Kitabul Buyu’), dan memasukkan ke dalamnya berbagai masalah yang tidak terhitung jumlahnya.

Gharar ini akan terjadi apabila kita mengubah sesuatu yang awalnya bersifat pasti menjadi sesuatu yang tidak pasti. Beberapa ulama juga mengemukakan pendapatnya tentang gharar. Seperti Wahbah al-Zuhaily mengatakan gharar yaitu penampilan yang menimbulkan kerusakan (harta) atau sesuatu yang tampaknya menyenangkan namun pada hakikatnya menimbulkan kebencian.

Contoh dari gharar yaitu saya menjual buah mangga saya dipohon pada awal musim atau Forwards and Future Transaction.Contoh tersebut adalah contoh barang yang tidak ada. Dan Ulama Syariah Modern menganggap future and forward transaction sebagai akad yang tidak sah. Alasan utamanya bagi ketidaksahannya adalah tidak adanya barang yang diperjualbelikan pada saat yang itu diadakan. Gharar dapat terjadi dalam beberapa keadaan yaitu:

  1. Ketika barang itu menjadi objek transaksi tidak dapat diketahui apakah ia ada ataupun tidak.
  2. Yang dapat berakibat pada kualitas, identitas dan syarat-syarat perlunya barang tersebut.
  3. Ketika barang itu berakibat pada identifikasi macamnya atau jenis benda yang telah menjadi objek transaksi.
  4. Ketika barang itu berhubungan dengan tanggal pelaksanaanya dimasa yang mendatang.
  5. Apabila barang itu ada, namun tidak diketahui apakah dapat diserakannya kepada pembeli ataupun tidak.

 

Hukum jual beli tersebut telah dilarang dalam islam yang berdasarkan Al-Qur’an dan hadits. Larangan jual beli gharar didasarkan pada ayat-ayat Al-Qur’an yang melarang memakan harta orang lain dengan cara batil. Sebagaimana Firman Allah.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka diantara kamu, dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah adalah maha penyayang kepadamu.” (QS. An-Nisa’:29).

 

Alasan syariat Islam mengharamkan ba’i al-gharar karena ada beberapa hal antara lain:

  1. Hal tersebut termasuk memakan harta dengan cara yang batil.
  2. Dapat menimbulkannya permusuhan terhadap sesama muslim.
  3. Menjadikan seseorang itu pemalas, sebab tidak perlu susah payah dalam mencari uang.
  4. Mengumpulkan harta dengan cara untung-untungan dan judi akan menyebabkan seseorang itu lupa terhadap Allah, hingga lalai dalam menunaikan kewajibannya sebagi seorang muslim seperti lupa mendirikan sholat dan berdzikir kepada Allah, serta dapat menghancurkan juga menghilangkan keberkahan terhadap harta tersebut.
  5. Menjadikan konsentrasi berpikir kita memacu terhadap keuntungan-keuntungan yang bersifat semu dibandingkan dengan hal-hal yang berguna untuk diri kita.

Menurut Ulama terkemuka gharar yang dilarang dapat dikelompokkan menjadi sepuluh macam yaitu:

  1. Menjual barang ataupun sesuatu yang lain dan belum berada dibawah penguasaan penjual. Yaitu apabila barang tersebut sudah dibeli dari orang lain tersebut belum diserahkan kepada pembelinya, maka pembeli tersebut ini belum boleh menjual barang itu terhadap pembeli lain. Akad semacam ini telah mengandung gharar, disebabkan terdapat kemungkinan rusak atau hilangnya objek akad tersebut, sehingga akad jual beli yang pertama dan kedua menjadi batal.
  2. Sesuatu yang tidak dapat diserahkan. Yaitu tidak ada kemampuan  seorang penjual untuk menyerahkan objek akad tersebut pada waktu terjadinya akad, baik objek akad itu sudah ada maupun belum ada. Semisal: Menjual janin yang masih diperut binatang ternak tersebut tanpa menjual induknya, atau contoh lainnya adalah menjual ikan yang masih berada didalam air (tambak)
  3. Tidak adanya kepastian tentang jumlah yang harus dibayarnya. Semisal, orang berkata: “saya jual beras ini kepada anda yang sesuai dengan harga yang telah berlaku pada hari ini”. Padahal jenis beras tersebut itu banyak sekali macamnya dan harganyapun tidak sama.
  4. Tidak adanya ketegasan dalam bentuk transaksi. Ada dua macam atau lebih yang berbeda dalam satu objek akad tanpa adanya penegasan dalam bentuk transaksi mana yang akan dipilih pada waktu terjadinya akad tersebut. Misalnya, sebuah motor dijual seharga 10.000.000,- dengan harga tunai dan 12.000.000,- dengan harga kredit. Namun, sewaktu terjadi suatu akad tersebut tidak ditentukan bentuk transaksi mana yang akan dipilihnya.
  5. Tidak diketahui ukuran barangnya. Tidak akan sah jual beli sesuatu yang kadarnya tidak diketahui. Misalnya, penjual tersebut berkata, “aku jual sebagian tanah ini kepada kamu dengan seharga 10.000.000”.
  6. Jual beli mulamasah. Yaitu jual beli yang saling menyentuh, yang masing-masing dari penjual tersebut dan pembeli pakaian atau sesuatu barang lainnya, dan dengan itu jual beli tersebut harus dilaksanakan tanpa ridha terhadapnya atau seorang penjual tersebut berkata kepada si pembeli, “jika ada yang menyentuh baju ini maka itu berarti anda harus membelinya dengan harga yang sekian, sehingga mereka menjadikannya terhadap objek bisnis sebagai alasan untuk berlangsungnya transaksi jual beli tersebut.
  7. Tidak ada kepastian tentang jenis sifat tersebut dari barang yang dijualnya. Misalnya, penjual berkata: “saya menjual sepeda yang ada dirumah saya kepada anda”. tanpa menentukan ciri-ciri sepedanya tersebut secara tegas. Bentuk seperti ini sama dengan si penjual menjual buah-buahan yang masih berada dipohon dan buah tersebut belum layak untuk dikonsumsi.
  8. Jual beli al-hashah. Yaitu sebuah transaksi bisnis yang dimana penjual tersebut dan sipembeli bersepakat atas jual beli suatu barang pada harga tertentu dengan lemparan batu kecilyang telah dilakukan oleh salah satu pihak kepada pihak lainnya yang telah dijadikan pedoman atas berlangsung tidaknya transaksi tersebut.
  9. “Rasulullah saw melarang jual beli hashah (lempar batu) dan jual beli gharar” Jual beli urbun. Urbun adalah seseorang membeli sesuatu dengan memberi uang muka (persekot) dan dibuat perjanjian, yaitu jika jual belinya jadi, maka tinggal membayar yang sisa. Jika tidak jadi, maka uang muka tadi menjadi milik si penjual. Memang bai' 'urbun ini menimbulkan perbedaan pendapat di kalangan ulama, sejak dahulu
  10. Jual beli munabadzah. Yaitu jual beli yang saling membuang, dimana masing-masing kedua orang tersebut yang berakad melemparkan apa yang ada padanya dan menjadikan itu sebagai dasarnya jual beli yang tanpa ada ridha antara keduanya.

Mari kita cermati ketentuan mendasar di atas agar kita terbebas dari gharar yang dilarang dalam agama kita. (Diah/Beritakoperasi)

 

Salurkan infak/sedekah anda melalui rekening Koperasi Arbain Wukir Jalanidhi (Koperasi AWJ), no rekening Bank BRI 114501003402539, atau hubungi Info Layanan Koperasi AWJ pada nomor WA 081977815855