Kita tidak Boleh Mengejar Dunia Semata, Dunia Sementara Akherat Harus Jadi Tujuan

“Demi Allah, tidaklah dunia dibandingkan akhirat kecuali seperti seseorang dari kalian mencelupkan jarinya ke laut, maka lihatlah apa yang tersisa di jarinya jika ia keluarkan dari laut?” (HR Muslim no 2868).

Kita tidak Boleh Mengejar Dunia Semata, Dunia Sementara Akherat Harus Jadi Tujuan

 

Tauziah  Sabtu Pagi , 11 September 2021 | 3 Shafar 1443 H

 

 

Beritakoperasi, Jakarta – Pembaca Beritakoperasi yang dirahmati Allah SWT, tema tauziah pagi kita kali ini adalah bahwa dunia ini hanya sementara. Kita tidak boleh larut dalam mencari dunia sehingga melupakan akherat. Mari kita telaah QS Al Kahfi ayat 7 dan 8  :

إِنَّا جَعَلْنا مَا عَلَى الْأَرْضِ زِينَةً لَها لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً () وَإِنَّا لَجاعِلُونَ مَا عَلَيْها صَعِيداً جُرُزاً

Artinya:

“Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya. Kami itu benar-benar akan menjadikan (pula) apa yang di atasnya menjadi tanah rata lagi tandus.”

(QS: Al-Kahfi Ayat 7-8)

 

Allah SWT memang selalu memberikan nikmat di dunia, namun masih banyak juga manusia yang tidak beriman pada Allah, sehingga Allah pun mencoba umat manusia dengan memberikan paceklik atau cobaan (bisa juga dipahami sebagai musibah).

Oleh karena itu, Nabi tidak perlu bersedih atas ketidakberimanan umatnya. Hal ini karena tugas Nabi hanyalah menyampaikan kebenaran. Menerima atau tidaknya kebenaran tersebut itu hak Allah mau memberikan hidayah atau tidak pada orang terkait.

Imam al-Razi dalam Mafatihul Ghaib menyampaikan bahwa tafsir kata zinah (زينة) ‘perhiasan’ itu terdapat perbedaan pendapat ulama. Ada yang mengartikan perhiasan yang dimaksud adalah tumbuhan dan pohon. Sebagian yang lain mengatakan bahwa perhiasan yang dimaksud adalah emas, perak, dan hasil tambang.

 

Ada juga ulama yang berpendapat bahwa perhiasan yang dimaksud dalam ayat ini adalah semua jenis hewan. Artinya, semua jenis yang disebutkan di atas merupakan kenikmatan. Kenikmatan yang Allah berikan ini untuk menguji makhluk-Nya mana yang bersyukur dan ibadahnya lebih baik.   

 

Imam al-Zamakhsyari dalam al-Kasyaf dan al-Baidhawi dalam Anwar al-Tanzil wa Asrar al-Ta’wil menjelaskan bahwa orang yang ahsanu ‘amala adalah mereka yang diberi kenikmatan berlimpah, namun ia masih hidup sederhana dan tidak tertipu dengan kemewahan duniawi. Oleh karena itu, saat mereka diberikan cobaan itu selalu sabar dan tetap tabah.

 

Terkait ayat di atas, Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur’an al-Azhim menjelaskan bahwa Allah SWT itu mengkhabarkan dunia itu sementara dan akan binasa. Allah akan melihat apa yang diperbuat oleh manusia. Siapa yang menanam kebaikan, maka ia akan memetiknya. Sebaliknya, orang yang menanam keburukan, itulah yang akan dipetiknya. Karena dunia bersifat sementara, kembalikanlah semuanya pada Allah.  Mari kita lihat Sabda Rasulullah beriut ini :

 

Dari Al-Mustaurid bin Syaddad –semoga Allah meridhoinya- ia berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

وَاللهِّ مَا الدُّنْيَا فِي الآخِرَةِ إِلاَّ مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ فِي الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ يَرْجِعُ؟

“Demi Allah, tidaklah dunia dibandingkan akhirat kecuali seperti seseorang dari kalian mencelupkan jarinya ke laut, maka lihatlah apa yang tersisa di jarinya jika ia keluarkan dari laut?” (HR Muslim no 2868).

Kita tidak Boleh Mengejar Dunia Semata, Dunia Sementara, akherat harus jadi tujuan.  Wallahu a’lam bish-showaab. (Diah/Beritakoperasi.com)

Salurkan infak/sedekah anda melalui rekening Koperasi Arbain Wukir Jalanidhi (Koperasi AWJ), no rekening Bank BRI 114501003402539, atau hubungi Info Layanan Koperasi AWJ pada nomor WA 081977815855.